10 Maret 2013

Aku ingin Blackberry lagi

Tepatnya empat tahun yang lalu, tahun 2009. Sekitar 2 bulan setelah di wisuda kuliah dengan program Diploma 3, lalu kemudian melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S1, aku baru menggunakan telepon genggam atau yang lebih populer di banyak kalangan orang dengan menyebutnya Handphone. Ya, disaat itu pertama kalinya aku baru menggunakan handphone. Memang bisa dibilang, aku ketinggalan zaman. Namun itulah kenyataannya. 

Handphone-ku itu adalah sebuah handphone GSM berlayar monochrome, abu-abu hitam, dan sekaligus tebalnya bukan main jika dibandingkan dengan keluaran saat ini tahun 2013. Maklum, handphone itu kudapat dari hibah Ayahku, alias warisan Ayahku-yang boleh didapatnya dari hadiah kantor. Seingatku, handphone itu keluaran sekitar tahun 2001/2002, kalau tidak salah. Sebagai gantinya, beliau pun membeli sebuah handphone baru dengan layar berwarna, dan dengan desain yang lebih tipis dari handphone-nya sebelumnya. Aku ingat Ayahku berkata seperti ini dulu. 

Handphone Ayah yang Ayah dapat dari hadiah kantor ini buat kamu saja. Ayah tahu, kamu butuh handphone untuk berkomunikasi dengan teman-temanmu dan juga dosenmu. Saat beliau berbicara seperti ini, aku merasa kalau Ayah mengingat dengan baik saat aku harus keluar masuk wartel yang tak jauh dari rumahku (warung telepon) untuk sekedar berdiskusi dengan kedua dosenku mengenai bimbingan tugas akhir. Ya, itu yang sering kulakukan dulu, ketika Ayah sedang bekerja dan handphone-nya dibawanya bekerja. Jadi tak ada pilihan lain selain ke wartel. Sekedar untuk mengingat. Tugas akhir itu adalah karya tulis yang harus diambil oleh mahasiswa/i pada semester 6-pada program Diploma 3. Karena dengan mengambil tugas akhir dan maju sidang, lalu kemudian dinyatakan lulus dengan nilai yang mencapai target, maka mahasiswa/i tersebut dapat di wisuda, dan menggenggam titel A.Md (Ahli Madya) di belakang nama mereka.

Biarpun handphone ini ketinggalan zaman, tak usah kamu risaukan. Kamu ini kan masih sekolah, jadi tak perlu handphone yang bagus. Bisa komunikasi saja, Ayah rasa itu sudah cukup untukmu. Ujar Ayahku lagi sambil tersenyum. Aku pun menjawabnya dengan senyuman juga, dan tak mengucap kata. Dalam batinku, aku merasa sangat senang. Tak mengapa handphone ini keluaran zaman dulu. Karena yang terpenting, dengan handphone ini aku akan bisa bekomunikasi dengan teman-teman kuliahku dan dosen-dosenku, mengenai tugas atau skripsi yang kan kuhadapi setahun kemudian. Aku pun tak harus lagi keluar masuk wartel dan menghabiskan banyak uang disana. 

Jadi... kalau seandainya kamu bimbingan skripsi nanti. Kamu tak harus keluar masuk wartel. Mengerti ?. Lagi-lagi Ayahku itu menyunggingkan senyumnya.
Terima kasih Yah. Jawabku cepat. Lalu segera kuambil handphone itu yang diletakkan Ayah di hadapanku-diatas meja. Kupandangi handphone itu untuk sesaat. Terbayang jelas, dengan handphone ini, komunikasi antar teman-teman kuliahku dan dosenku menjadi semakin lebih mudah.

Waktu pun terus berjalan. Dan Alhamdulillah, kuliahku lancar setahun kemudian. Handphone hibah Ayah itu memang berguna. Menanyakan tugas ke teman-temanku pun seakan jadi lebih mudah, hanya dengan short mesage service (SMS). Ketika aku mulai bimbingan skripsi pun juga terasa lebih mudah dengan handphone itu bersamaku. Aku jadi lebih mudah menanyakan lokasi dosen pembimbinku sedang berada dimana saat itu. Maklum saat bimbingan skripsi, dosen bimbingan skripsiku itu sering tidak berada di kampus. Itu juga yang pernah kualami saat bimbingan tugas akhir setahun lalu. Saat aku menghampiri seorang dosen di sebuah kampus, ternyata dosen itu tidak ada ditempat. Dan dosen itu ternyata berada di kampus lain dengan jarak yang jauh dari kampus yang kudatangi. Padahal aku mengeluarkan banyak perjuangan untuk menghampiri dosen bimbinganku itu ke kampusnya. Salah satunya dengan kehujanan dan basah kuyup. 

Beberapa bulan kemudian, aku pun dinyatakan lulus sidang skripsi dengan mendapatkan nilai grade A, nilai IPK pun juga memuaskan. Dan tentunya, aku pun berhak mengikuti acara prosesi wisuda untuk menggenggam titel Sarjana di belakang namaku. Tentunya setelah mendengar ceritaku itu, kalau aku lulus sidang skripsi, Ayah dan Ibuku amat senang. Impian Ayah dan Ibuku sejak aku kecil, memang ingin menyekolahkanku hingga ke perguruan tinggi, setinggi yang beliau berdua bisa lakukan untukku. Maksudku, dulu Ayah dan Ibuku ingin agar aku sekolah sampai S1. Lalu waktu pun berjalan, dan wawasan serta pengetahuan Ayah dan Ibuku bertambah. Maka impian Ayah dan Ibuku juga bertambah. Ayah dan Ibuku itu ingin agar aku melanjutkan studi kuliahku hingga S2. Karena aku dulu sejak kecil telah berjanji di dalam hatiku untuk belajar hingga sekolah tinggi, aku pun mengiyakan impian Ayah dan Ibuku itu. Terlebih lagi, aku memang menginginkan melanjutkan studi kuliahku.

Satu bulan kemudian setelah prosesi wisuda Sarjana, aku pun mulai mencari kerja. Dan singkat cerita, pada akhirnya setelah menunggu cukup lama aku pun mendapatkan sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan ternama yang bergerak dalam bidang keuangan. Aku pun mulai bertekad, jika aku melanjutkan ke jenjang S2 nanti, aku harus bisa membiayai sendiri semua urusan biaya kuliahku. Tanpa harus melibatkan lagi atau meminta uang lagi kepada Ayah dan Ibuku. 

Setahun kemudian, dengan uang tabunganku yang kusisihkan dari gaji yang kudapat setiap bulan, aku mulai mendaftar S2 di sebuah kampus swasta ternama di Indonesia. Aku pun mulai mengikuti serangkaian tes, yaitu wawancara dan tes praktek. Dan singkat cerita, aku dinyatakan diterima. Tentunya Ayah dan Ibuku bangga dengan pencapaianku itu. Aku pun turut bahagia, melihat Ayah dan Ibuku bahagia. Terlebih lagi dua hari kemudian, kebahagiaanku bertambah. Karena di tempat kerjaku sedang diadakan sebuah acara setiap tahunnya untuk penghargaan beberapa pegawai yang berprestasi. Dalam artian, seorang pegawai yang memberikan kerja nyata, penuh dedikasi pada perusahaan, dan seorang pegawai yang sering mencapai target yang dibebankan oleh perusahaan pada jobdesk-nya. 

Di malam penghargaan itu, aku tak menyangka akan mendapatkan penghargaan sebagai salah satu pegawai yang berprestasi. Dan hadiah yang kudapat, aku mendapatkan sebuah smartphone Blackberry Davis 9920 !. Rasanya saat malam itu, aku sangat bahagia sekali. Di sisi lain, akhirnya aku bisa mengganti handphone-ku yang lama dengan sebuah smartphone yang canggih bukan main. Tentunya dengan layar berwarna, desain lebih tipis, dan sejumlah fitur yang bisa membuatku jauh dari bosan. Dan tentunya, semakin mempermudahku dalam berkomunikasi. Dalama kata lain, aku bisa memanfaatkan fitur Blackberry Messenger (BBM) untuk berkomunikasi dengan rekan kerjaku dan atasanku.

Dan memang benar saja, dengan Blackberry Davis 9220 dan ditambah menggunakan operator XL, komunikasi yang terjalin dengan rekan kerjaku dan atasanku terasa semakin lancar. Tugas-tugas kerja yang dibebankan atasanku kepadaku bisa diinformasikan lewat BBM, dan push email. Itu jika aku diminta untuk mengerjakan sebuah tugas diluar jam kerja. Di sisi lain, rasa jenuh pun bisa hilang seketika dengan memanfaatkan sejumlah fitur yang kaya dan canggih dari Blackberry Davis ini. Bertukar informasi melalui BBM dengan teman-temanku juga amat menghiburku, apalagi BBM juga dimanfaatkan untuk mengirim gambar/foto ataupun cerita lucu yang mengundang gelak tawaku saat melihatnya. Apalagi, dengan menggunakan operator XL, aku bisa update berita dengan berselancar di internet dengan cepat.

Duka yang kurasakan dengan blackberry hampir tak pernah ada, itu menurutku. Karena dengan Blackberry, segalanya menjadi mudah. Aku pun naik jabatan kerja dan dengan gaji yang juga naik, meskipun tak signifikan. Tapi aku merasakan duka yang mendalam, ketika aku harus menjual Blackberry-ku itu. Karena saat itu aku membutuhkan uang untuk membiayai kuliahku yang mencapai 5 juta dalam satu semester. Meskipun gajiku naik, tapi itu tak cukup membantuku dalam membiayai kuliahku. Maka terpaksa, aku pun menjual Blackberry yang telah memberikan hal yang banyak kepadaku sehingga aku bisa naik jabatan kerja. Karena meminta uang kepada orang tua, rasanya tak mungkin kulakukan lagi.
Namun suatu saat, aku ingin menggunakan Blackberry kembali. Meskipun rasanya hal itu harus kupendam lama. Karena saat ini, aku memfokuskan pengeluaran sebagian besar gajiku hanya untuk membiayai kuliahku.


read more

11 Februari 2012

I'm Indonesian and Wants To Speak English Well


For practice in speaking english we should be study more about that. Such as : Writing, reading, speaking, and use english daily. Honestly... I'm Indonesian and i can't speak english like native speaker. I knew the reason. What ?. Because, i haven't accustomed to spoken english daily. Many people said that we will get forced while we are in the majority of countries that use English as a langguage. It is true, i think. Why ?. Because, when we were there, we will faced anything about english, english, and english. Such as : English television, english radio broadcast, english newspaper, and we must speak english to others people in around us. It seems probably not when we choosen speaking the other langguage, Why ?. Because we were in a country where use english as daily conversation.

I think it's enough for this day about my experience. It will be continued my friend. :)

Photo/picture source : Google Search Engine


read more

4 Desember 2009



AIR LANGIT


Langit sore hari ini mendung
Dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan
Diatas sana...awan bergejolak tak tentu arah melayang-layang
Mereka kelabu, abu-abu namun agak hitam, mungkin mereka sedang muram
Muram juga sekarang hati yang kini diderita tuan

Benar saja...
Satu...diikuti ratusan juta lainnya air langit jatuh
Menghujam semua...semua yang berada di bawahnya

Sejenak kupejamkan kedua mata...
Sambil juga kuciumi aroma...
Bau itu...
Bau debu
Juga bau tanah yang menyengat hebat
Masuk liar ke dalam lubang hidungku
Mereka bekerja mempengaruhi fikiranku
Juga merusak perasaanku
Namun kubiarkan mereka berada disini terlalu lama...
Karna mereka seolah memberikan ketenangan batin
Juga memberiku ketenangan setelah semuanya yang kualami

Segera kulepaskan kedua mataku...
Namun dengan perlahan-lahan...
Melihatmu...
Wajahmu terlukis di langit kelabu
Juga ditemani dengan rintik-rintik gerimis yang sedemikian cepat jatuh tak sabar

Dan aku pasti ingat sosok itu
Garis wajah itu...
Senyum itu...
Dan aku bahagia melihat kau berbinar seperti itu

Tapi hanya sesaat...cahaya kilat membuat wajahmu hilang dari pandanganku
Mungkin terbang bersama rombongan burung yang sedari tadi hinggap di ranting-ranting pepohonan itu
Sebenarnya mereka memilih untuk tak pergi...karna disanalah mereka merasa nyaman
Tapi karna sesuatu keadaan yang membuat mereka memilih untuk pergi jauh...

Aku suka bau tanah ketika saat hujan turun
Aku suka hujan...karna rintik-rintik air yang jatuh menimpaku membuatku tenang
Aku suka hujan...karna disanalah aku begitu menikmatinya
Aku suka hujan...karna disanalah aku melihatmu kembali
Aku suka hujan...karna disanalah wajahmu berbinar
Aku suka hujan...karna disanalah senyummu berada
Aku suka hujan...karna aku suka suasananya
Aku suka hujan...karna aku begitu menikmatinya

Jakarta, 29-11-2009

read more

31 Oktober 2009

Aku Memang Seperti Ini

Bagian 1

Aku pemimpi ?
Aku menikmati saat-saat itu, menjadi aku tapi di dunia yang kubuat sendiri ?
Apa aku memang seperti itu ?

Memang benar adanya beberapa hal dari isi buku tebal cover merah dengan corak gambar aneka macam binatang yang di-set sedemikian rupa--satu dengan lainnya memutar sehingga membentuk sebuah lingkaran, dibalut dengan beberapa garis hitam berbentuk lingkaran di luar mereka yang membuat mereka takkan 'kabur tanpa pamit'. Bukankah mereka telah 'dikerangkeng' dengan beberapa garis tebal itu, lagipula tak pernah kudengar gambar mempunyai roh untuk bisa melarikan diri. Bukankah mereka terlahir dari setitik tinta, mereka tercipta hanya untuk menarik minat orang lain untuk 'mengenal' mereka. Ya... aku termasuk di dalam orang-orang itu. Lagipula buat apa mereka melarikan diri jika ada kesempatan untuk itu ?. Untuk menakut-nakuti orang ?. Tak perlu. Lebih baik mereka berada terpajang di cover sampul depan buku itu selamanya, menjadi penghias buku itu untuk mempertegas sebuah kata diatasnya yang berbunyi "SHIO". Sehingga nantinya pun aku bisa tahu, dan sekarang aku pun jadi tahu setelah kubaca isinya. Oh.. jadi ini lah shioku.

Ternyata aku memang seperti itu, dan kuakui itu. Dan ini lah jawaban dari semua kata-kata yang berakhir dengan sebuah simbol tanda tanya di atas itu. Aku memang mempunyai harapan tinggi untuk masa depanku kelak nantinya. Bisa dikatakan aku berimajinasi terlebih dahulu, dan tinggal semangat di dalam diri ini untuk mewujudkannya. Musuhku hanya 1, terkadang rasa malas bisa terlalu lama menghinggapi diri ini. Dan setelah itu, aku hanya berharap semangat-semangat itu berkobar lagi dan 'membakarku'. Memang hanya 1 musuhku, tapi ia merepotkan sekali, ah... rasa itu yang bisa membuat angan-angan ini sulit sekali untuk diwujudkan.

Meskipun begitu, walau tidak berani berjanji. Aku akan selalu berusaha untuk bisa menjadi seseorang yang lebih berarti untuk semua orang-orang yang selalu ada di hati dan pikiranku.

Aku...
akan menjadi lelaki yang sebenarnya lelaki.

Dan aku...
akan membuktikannya.

BAGIAN 2

Apa aku akan menjadi pengecut untuk tidak lagi mau menjalin cinta?
Apa aku akan menjadi pecundang untuk tidak lagi mau untuk menyayangi dan bisa merasakan disayangi?

(Menghela nafas dalam-dalam....)
(Lalu berfikir sejenak)

Memang, aku seperti itu, tapi bukan untuk hari ini dan beberapa hari yang lalu, karena semua hal itu hanya berlaku untuk waktu dulu, dulu sekali. Cukup 1 saja alasannya, kenapa bisa terlalu lama aku menjadi pengecut meskipun banyak kutemui 'cinta' bertebaran menghampiriku. Kebohongan. Dan hal itu adalah sesuatu yang kubenci. cukup sudah untuk merasakan nikmatnya kebohongan, dan tidak untuk kedua kalinya, ataupun ketiga kalinya, ataupun sampai beberapa kali.

Aku bukan 'pemain' dalam menjalin suatu hubungan. Aku hanyalah aku, yang kan selalu memberikan semua rasaku untuknya.
Aku bukan 'pemain' dalam arti kesetiaan, aku hanyalah aku, dan aku akan selalu tetap bersamanya.
Aku hanyalah aku, bukan orang lain, adanya aku memang seperti ini.
Aku hanyalah aku, bukan pendusta, karena aku memang bukan seperti itu.
Aku hanyalah aku, yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya agar bisa menjadi nomor 1 dihatinya.

Tak kusesali takdirku
Tak kusesali awal dari semuanya sehingga bisa mengenalnya.
Tak kusesali saat aku harus menerima 'candaannya' untuk bersama dengan yang lain.
Tak kusesali untuk pertama kalinya berbicara dengannya.
Tak kusesali waktuku kuhabiskan untuk berbicara dengannya walaupun kenyataannya jauh.
Tak kusesali saat aku melihat, di saat itu juga beradu pandang dengannya yang sebenarnya tak' ada niat untuk hal itu.
Tak kusesali di tiap-tiap kesempatan saat bersamanya sambil membunuh waktu untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Langkah demi langkah kaki bersamanya, berbicara dengannya tentang segala hal, bercanda dengannya yang sesekali dipenuhi dengan gelak tawa, dan semua romantisme serta rasa malu-malu itu yang takkan pernah aku lupakan tetapi aku simpan, aku tempatkan di dalam sebuah kotak khusus yang berada di dasar hati yang paling dalam untuk dijadikan sebuah kenangan manis. Dan itu bisa menghiburku saat aku menginginkannya berada disampingku walau kenyataannya aku sedang sendiri.
Tak kusesali ketika pada akhirnya untuk sebuah awal yang indah--kami sepakat menjadi satu untuk jadi berdua yang pada akhirnya aku pun harus mengingkari mauku yang sebenarnya t'lah sukses aku jalani hampir terlalu lama.
Tak pernah kusesali semuanya, segala hal saat bersamanya.
Sekali lagi, tak pernah kusesali takdirku harus seperti ini.

Walau kutahu, jika ada awal pasti ada akhirnya. Bukankah memang seperti itu dalam kehidupan ?.
Tetapi mauku, akhirnya tidak akan datang secepat itu, tapi akan datang jika 'kehidupan' kami t'lah habis.
Aku tahu. Aku tahu sekali, rasaku lebih dalam dibandingkan apa yang ia tahu selama ini dari rasaku.

Dan..
Aku merasa senang jika melihatnya selalu tersenyum dan tertawa lepas.

Tapi..
Aku sedih jika melihatnya sebaliknya


Bagian 3

Semua ini kupertegas..
Kupersempahkan seluruh hidupku untuk mereka, dan begitu juga seseorang yang akan menjadi bintang hati yang paling amat berharga nantinya.

Aku lelaki..
Akan memilih menderita sendiri jika pada akhirnya mereka bahagia.

Aku lelaki..
Akan memilih jalan melawan arus dari apa yang kuingin, jika pada akhirnya bisa membuat mereka tersenyum.

Aku lelaki..
Akan memilih selalu bergerak 24 jam, kemanapun itu untuk mencari materi, jika pada akhirnya hidup mereka sejahtera, dan tak kekurangan apapun.

Aku lelaki..
Akan memilih sakit, jika pada akhirnya mereka selalu sehat.

Aku lelaki..
Akan memilih menanggung sendiri semua kesedihan mereka, jika pada akhirnya mereka bisa selalu tertawa lepas.

Aku lelaki..
Dan aku bahagia melihat mereka bahagia.

Aku lelaki..
Karena aku memang seperti ini.



read more

17 Oktober 2009

Tak’ pernah kulakoni sebelumnya

Sejauh sepanjang jalan melelahkan kaki meski tak’ terbiasa


Namun ku terbiasa bila selalu diam..

Menunduk..

Dan tak’ peduli dengan sekitar..

 

Sikapku petang ini berubah menjadi congkak

Meski sadar aku tahu mengapa

Pancing sedkit amarahku lekas naik

Meski ku tahu jawabnya mengapa

 

Memikirkanmu..

Semua hal yang tersembunyi dariku

Dustamu..

 

Walau ku tahu itu hakmu

Juga pilihanmu

 

Aku ini lelaki ‘statusmu’

 

Aku ini manusia

Aku punya rasa

Sama seperti kalian lelaki biasa

Juga sama seperti kalian perempuan biasa



read more

12 Juli 2009

Biarkan Saja Takdir Memilihmu

Takdir menentu hingga menemu
Dari segalanya yang mengikat
Yang tak' kuingin
Dari semuanya yang kan menebal membutakan rasaku
Terbakar...
Berkobar menyala-nyala
Tetapi sebelumnya...
Mati kaku sampai membeku-beku
Jadi...
Apa yang bisa kuperbuat ?
Semua kan datang hanya menunggu waktu
Menuntunmu mendekapku
Jadi...
Biarkan saja takdir memilihmu
Lewat irama angin dari segalanya yang tak' kuingin
Membawamu sampai kau tergoda

read more

24 Mei 2009

UNTITLED

Kita punya masa, dulu
Aku, kau, juga mereka main lari-lari, main sembunyi-sembunyi
Permainan sederhana tiap sore hari, waktu itu
Ah...menyenangkan sekali

Kita punya jalan hidup, jadi sendiri-sendiri
Selang setahun, sudah jadi perempuan
Sungguh cepat sekali
Juga karna waktu, kita bertemu akan...

Dalam waktu kita menemu sempat
Sementara ini, kita bisa melihat
Tubuh kita menghadap, kita beri kita punya senyum hangat
Aku bisu, juga kau. Jadi cara kita, kita punya kita beri, itu alat

Sesuatu dalam ini rasa menekan-mendesak
Jadi ingin tahu, tak' sabar, karna jerit mereka memekak
Mereka tuntun, aku punya mata, lihat
Dia, duduk di depan halaman rumah ditemani sinar hangat

Ah...emosi. Menyulap hati jadi merasa
Aku tahu ini, tidak selamanya
Aku mau cepat-cepat pergi
Juga dari sini. Menekan-mendesak, tak' peduli

Sudah saatnya,
Aku kembali juga dari menamu
Karna Ibukota ini tempat tinggalku
Disini aku seharusnya

Terlalu lama, hilang sudah
Semburat emosi jadi redam, kini dingin membeku
Takkan lagi terbakar menyala-nyala, kala itu
Karna kutahu...ini sementara. Karna emosi sedang berulah

read more