12 Juli 2009

Biarkan Saja Takdir Memilihmu

Takdir menentu hingga menemu
Dari segalanya yang mengikat
Yang tak' kuingin
Dari semuanya yang kan menebal membutakan rasaku
Terbakar...
Berkobar menyala-nyala
Tetapi sebelumnya...
Mati kaku sampai membeku-beku
Jadi...
Apa yang bisa kuperbuat ?
Semua kan datang hanya menunggu waktu
Menuntunmu mendekapku
Jadi...
Biarkan saja takdir memilihmu
Lewat irama angin dari segalanya yang tak' kuingin
Membawamu sampai kau tergoda

read more

24 Mei 2009

UNTITLED

Kita punya masa, dulu
Aku, kau, juga mereka main lari-lari, main sembunyi-sembunyi
Permainan sederhana tiap sore hari, waktu itu
Ah...menyenangkan sekali

Kita punya jalan hidup, jadi sendiri-sendiri
Selang setahun, sudah jadi perempuan
Sungguh cepat sekali
Juga karna waktu, kita bertemu akan...

Dalam waktu kita menemu sempat
Sementara ini, kita bisa melihat
Tubuh kita menghadap, kita beri kita punya senyum hangat
Aku bisu, juga kau. Jadi cara kita, kita punya kita beri, itu alat

Sesuatu dalam ini rasa menekan-mendesak
Jadi ingin tahu, tak' sabar, karna jerit mereka memekak
Mereka tuntun, aku punya mata, lihat
Dia, duduk di depan halaman rumah ditemani sinar hangat

Ah...emosi. Menyulap hati jadi merasa
Aku tahu ini, tidak selamanya
Aku mau cepat-cepat pergi
Juga dari sini. Menekan-mendesak, tak' peduli

Sudah saatnya,
Aku kembali juga dari menamu
Karna Ibukota ini tempat tinggalku
Disini aku seharusnya

Terlalu lama, hilang sudah
Semburat emosi jadi redam, kini dingin membeku
Takkan lagi terbakar menyala-nyala, kala itu
Karna kutahu...ini sementara. Karna emosi sedang berulah

read more

18 Mei 2009

Tunggu Sampai Bosan

Duduk banyak di tepi luar pintu, kaum intelektual
Tunggu seorang intelektual juga, tapi ia lebih pintar
Ramai gaduh kini, namun kupilih bisu dari hingar-bingar
Kupilih juga duduk tenang tak' bergerak, sekalipun itu sejengkal

Lewat puluhan menit ia tak' muncul juga
T'lah kuhabiskan pemanis lidah yang kuberi tiga
Bosan kini...
Tunggu, tapi jangan kau katakan kedua kali, ah...nanti datang lagi

read more
Cappuccino

Cangkir putih besar tak' biasa aku punya
Di ruang 4x3 meter ia berada
Sendok stainless steel berendam tapi kuat redam panas mendidih
Ini sesuatu hal kebiasaanku, mencoba menggali kalimat yang sedang tidur, alih-alih untuk bisa berfikir jernih

Sesekali seruput
Hilang kesemuanya, hal tak' bisa, jadi tak' takut
Mulai lagi, semangat lagi
Candu lagi, seruput beberapa kali

Kutengok kedalam ia merayu
"Ayo teguk aku lagi". Katanya dalam bahasanya
Nakal sekali, sekali kuteguk kau habis sudah, mati, tak' tersisa
"Coba kalau bisa". Tantangnya, menguji tapi kini ia pilu. Mau mati, maka pilu

Budaya Italia di dalam cangkir, kuteguk lagi cappuccino
"Ku beritahu, aku juga kawan dari penulis di negeriku". Cerita ia saat aku jadi buntu lagi
"Oh...hebat kau". Baru kali ini kubalas ocehannya, biasanya tak' peduli
"Kalau begitu kau kenal diktator Mussolini".
"Ah...dia teman akrabku". "Dia senang sekali kutemani"
Kuteguk lagi cappuccino...
"Apa kau kenal pelatih sepakbola itu. Vittorio Pozzo"
"Ah...dia. karenaku dia bawa Italia juara dunia"
"Kuberitahu lagi, pahlawan kami saat itu Giuseppe Meazza"
"Hebat...hebat...kau hebat sekali"
"Kau tak' usah terlalu memuji"
"Apa kau bisa jadikanku seperti mereka, meledak"
"Tak' perlu khawatir, siap-siap dari sekarang, mimpimu tinggal menunggu waktu, kau akan jadi hebat"

Pagi-pagi setia sekali
Sudah menunggu untuk diteguk lagi
Ia rayu, rayu, rayu, jadi kuteguk berkali-kali
Senang sekali, ingat mimpi jadi semangat lagi

Ia kawan saat aku menulis rangkaian kata
Apa yang kau lihat sekarang, itu yang kau baca
Kau senang ?. Semoga saja
Terima kasih...terima kasih. Kenanglah, jangan lupa








read more
Temani (Aku)

Bila ingin, tinggallah disini
Jangan jenuh hati...
Coba beri arti...
Ciptakan sesuatu, mungkin nanti tak' sendiri lagi

Menetaplah hingga... Dan untuk kini
Dan jangan pergi...
Temani... Temani...
Mungkin nanti... kan ikat janji

read more

22 April 2009

MEMORIMU PRIA FLAMBOYAN
Sajakku bersuara.....
Minggu pagi.....
Massa ini jangan cepat pergi, tolong tambah lagi. Sini, kembalikan lagi.....
Sajakku mulai berkata.....
Pria flamboyan muda duduk tenang depan taman
Pangku tangan, mata tuju depan
Setelan baju senam seadanya milik ia, pakainya sekarang
Sangat dinikmatinya sekarang ia, dilepaskannya fikirannya sekarang melayang
Semua larut jadi satu
Tidak.....seharusnya mereka tidak begitu, buakn itu
Tidak hanya satu
Coba lihat, ingat-ingat
Apa yang kuingat-ingat, lihat.....
Coba dengar, hantar
Apa yang kuhantar, dengar.....
Coba rasakan, jelaskan
Apa yang kujelaskan, rasakan.....
Sangat muda, mungl-mungil, lari-lari hajar bola sana-sini
Nun jauh puluhan tahun lalu itu aku
Kini, zaman ini, mereka main di depan taman, diatas rumput, dibawah saksi mati dua patung tugu tani
Asyik sekali terus seperti ini, mereka mau lagi, maka kembalikan itu
Sangat tua, kulit jadi keriput, lari-lari kecil-kecil, itu aka-aka, itu aki-aki
Nun jauh puluhan tahun lalu itu aku
Sekuat tenaga sedang lawan penyakit usia, tolong cepat-cepat kalian pergi
Seperti ini jadi menderita sekali, mereka tidak mau ini, jangan kembalikan atau tambah itu, tapi kembalikan
masa muda milikku
Sudah dewasa, mata tegas, gerak tangkas, lari-lari panjang-panjang, juga lebar-lebar
Sekarang ini itu aku. Ya.....jelas-jelas itu aku
Lelah sekali sudah lari. Tapi sedang lari itu sebayaku
Kucur air basahi wajahku tapi sudah redam. Namun sebayaku sekarang ini sebaliknya, namun kini aku, sebayaku
sehat sehat badan jadi lebih bugar
Sudah dewasa, mata keranjang, kumpul duduk tenang, suit-suit kecil sedang jahil
Sekarang ini itu juga aku. Ah.....tetapi tidak.....aku tal' seperti itu, seperti kalian, sepertimu.
Goda nona-nona jalan bohai, ini normal, kami lagi nakal
Nafsu sekali, buas sekali mereka itu, kalian itu, engkau itu, kamu itu
Kini diam, mata pilih meram
Kini jadi kelam, disengaja layaknya malam
Suara itu, sedang menjerit-jerit ramai laju kuda-kuda lekat badan besi
Suara itu, hembusan angin masuk aku rasa, nyaman, tenang sekali
Nona digoda itu, kini jadi semampai, wajahnya terkesan familiar
Aku tahu dia dulu, sama-sama duduk dengan seragam sam putih biru, tapi tak' kenal, berjilbab,
tapi kini rambut terurai panjang, ikal, jadi beda tapi menawan
Namun sesalku kenapa lepas, tak lindungi lagi tubuhmu sebagian
Bidik mereka, engkau nona setiap langkahmu jadi sasaran liar
Kutemui nona satu lagi, jadi melendung maju perutmu kini nak'
Ah.....kutebak, sudah hampir bulan rupanya
Aku tahu dia dulu, sama-sama duduk dengan seragam putih biru, namun ia menjabat primadona
Ah.....sayang, engkau sekarang melaksanakan tugas wanita beranak-pinak
Sudah lihat, ingat-ingat
Apa yang ku ingat-ingat sudah engkau lihat.....
Sudah dengar, hantar
Apa yang ku hantar sudah engkau dengar
Sudah rasakan, jelaskan
Apa yang ku rasakan sudah ku jelaskan....
Sajakku membisu.....
Tak mau keluar, sajakku punya pintu, sudah tertutup dengan kerasnya batu
Tak lagi berkata, tutup mulut, diam, sudah selesai rupanya
Sajakku berhenti, akhirnya....


read more
HIDUPKU TUAN
Jika hidup berarti kesenangan
Aku pilih.....
Jika hidup sebagian besar hanya kesulitan
Mengapa tidak ?. Aku pilih.....
Jika hidup dua itu berbagi bagian
Ini takdir, tentu aku pilih....
Begitu takdir. Kenapa kau ragukan ?
Jangan tendang, jangan tinju melawan arus, ini sudah seharusnya
Kenapa kau ini !. Jangaaaaan.....
Semua.....lapangkan, sama-ratakan, ikhlaskan. Itu kebenarannya
Bagai oase padang pasir hidupmu tuan
Terengah-engah julur lidah, peras keringat mencapai ilusi kesenangan
Tetapi sadis. Tuan hanya sendiri
Berlari-lari kejar mimpi, terus saja lari kenapa harus berhenti ?
Hidup tuan tak' hanya mengenyangkan perut dengan makan
Tuan tentu senang mewujudkan tal' hanya pangan bukan
Bagai bosan hidup tuan kini.....
Kenapa tersendat-sendat berjalan menyeret-nyeret beban jika tuan bisa berlari ?
Kesempatan datanglah.... Tuan akan mau ambil
Nah begitu, tuan segera lekas jemput mimpi yang sekarang tak' ada hasil, nihil
Bagai jadi senang bukan main hidup tuan nanti
Tuan tanam dari bibit sulit, sejak ia kecil tetap berusaha tuan tumbuhkan
Panen raya nanti kau tuan
Ah.....Ini hanya penyegar. Penyegar mimpi yang aku, tuan ini tak' inginkan mati

read more